KONEKSI
ANTAR MATERI , KESIMPULAN DAN REFLEKSI ANTAR MATERI TENTANG PEMIKIRAN KI HAJAR
DEWANTARA
Oleh : Suharianto (201698291361)
Dibimbing: Fasilitator : 31-YETTY FATRI DEWI
Pendamping :
103-H. Aisyah Hasibuan
Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran
yang mampu memberikan kebebasan kepada siswa untuk berkreasi, menemukan cipta,
rasa dan karsa serta mampu mengembangkan minat serta bakatnya masing-masing
sesuai kodrat alam dan kodrat zaman yang melahirkan siswa yang memiliki dan
menumbuhkan budi pekerti yang luhur.
Konsep pendidikan dan pengajaran menurut Ki
Hadjar Dewantara, Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak
bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh
menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka
(Dewantara I,2004). Maka, Ki Hadjar menekankan arti penting memperhatikan
kodrat alam dalam diri anak semasa pendidikan. Artinya Pendidikan itu sudah
setua usia manusia ketika manusia mulai bertahan hidup dan mempertahankan hidup
dengan membangun peradabannya. Mendidik anak itu sama dengan mendidik
masyarakat karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti
mempersiapkan masa depan anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula
dengan mendidik masyarakat berarti mendidik bangsa ( Dewantara I, 2004).
Menurut Ki Hadjar, Pendidikan adalah
pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap
dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman
atau masyarakat (Dewantara II , 1994). Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya
hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan
berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga
manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan
sendiri.
Dalam hal ini, Ki Hadjar membedakan antara
Pengajaran dan Pendidikan. Pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan
kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani
yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air,
memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani
tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam
atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan
dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara
memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin (Dewantara
I, 2004).
Mendidik adalah menuntun segala
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai
anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya. Dan Pendidikan harus memperhatikan budaya local yang telah
ada.
Peserta didik : adalah manusia
yang mempunyai kodratnya sendiri dan juga kebebasan dalam menentukan hidupnya. Pandangan Ki Hajar tentang siswa yang
tidak mengekang kebebasan siswa dalam mengembangkan potensinya dan membiarkan
siswa belajar dari pengalaman yang
dialaminya sendiri
Pemikiran
Ki Hajar Dewantara tentang terdapat pada konsep yang di terapkan di Taman Siswa
yaitu Tut Wuri Handayani. Tut Wuri Handayani berasal
dari bahasa Jawa “tut wuri” berarti “mengikuti dari belakang” dan “handayani” berarti
“mendorong, memotivasi atau membangkitkan semangat”. Dengan kata tersebut
berarti pendidik diharapkan dapat melihat, menemukan, dan memahami bakat atau
potensi-potensi apa yang timbul dan terlihat pada anak didik, selanjutnya dapat
dikembangkan.
Konsep Tut
wuri handayani mirip dan dekat dengan aliran/hukum konvergensi dari
William Stern, yang berpendapat bahwa perkembangan anak ditentukan oleh
bagaimana interaksi antara pembawaan atau potensi-potensi yang dimiliki anak
yang bersangkutan dan lingkungan ataupun pendidikan yang mempengaruhi anak
dalam perkembangannya.
Tut wuri handayani merupakan bagian dari
konsep kependidikan Ki Hajar Dewantara yang secara keseluruhan berbunyi sebagai
berikut:
Ing
ngarso sung tulodo,Ing madyo mangun karso,Tut wuri handayani.
Ing ngarso sung tulodo artinya jika pendidik
sedang berada di “depan” maka hendaklan memberikan contoh teladan
yang baik terhadap anak didiknya. Ing ngarso= di depan, sung= Asung= memberi,
tulodo= contoh=teladan.
Ing madyo mangun karso berarti
jika pendidik sedang berada di “tengah-tengah” anak didiknya, hendaklah ia
dapat mendorong kemauan atau kehendak mereka, membangkitkan hasrat mereka untuk
berinisiatif dan bertindak. Ing madyo= di tengah, mangun= membangun,
menimbulkan dorongan, karso= kehendak atau kemauan. Konsep Ki Hajar
Dewantara tersebut di atas kini ternyata tidak hanya berlaku dalam dunia
pendidikan, tetapi lebih luas lagi dijadikan semboyan untuk dipedomani dalam
melaksanakan kepemimpinan masyarakat dan negara, yang terkenal dengan sebutan
kepemimpinan Pancasila
Sebelum saya mempelajari
modul ini, anggapan saya
adalah bahwa makna Konsep KIHAJAR DEWANTARA Tentang TUT WURI HANDAYANI, bahwa
guru hanya cukup memberikan dorongan kepada siswa untuk aktif belajar dan bisa mendapatkan
nilai Koginif yang baik, dan kurang memperhatikan perkembangan siswa dari segi
sikap dan psikomotorik dalam pembelajaran, sehingga selama ini saya hanya baru melakukan
degiatan yang berusaha siswa bisa mau aktif dalam belajar dan kemampuan
kognitifnya bisa meningkat, tetapi ternyata lebih Luas dari yang yang saya
pahami sebelumnya, Bahwa KONSEP TUT WURI HANDAYANI memiliki makna yang
sangat luas yaitu mengembangkan serta mendorong bakat
atau minat yang ada pada diri siswa, dengan pembelajaran yang menyenangkan. Dan
pembelajaran tentunya harus menyesuaikan dengan zamannya, karena kodrata alam
akan selalu maju menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Selanjutnya untuk
mendisiplinkan peserta didik, menurut saya sebelum mempelajari modul ini adalah
dengan memberikan hukuman yang keras tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lain.
Namun setelah mempelajari Modul ini, saya semakin menyadari, bahwa hukuman bukanlah
cara yang baik untuk membuat anak bisa menjadi pintar dan disiplin bahkan bisa
menghambat pertumbuhan jiwa yang merdeka, namun setelah mempelajari modul ini,
saya mengetahui bahwa hukuman itu diberikan harus seimbang netral dan adil.
Hal
yang berubah dari pemikiran setelah mempelajari modul ini adalah semakin
menambah wawasan saya tentang tugas seorang guru yaitu,
diantaranya berusaha mengembangkan bakat
atau minat yang ada pada diri siswa dengan cara menerapkan pembelajaran yang
menyenangkan. Dan jika memberi sanksi kepada peserta didik atau siswa harus
diberikan dengan seimbang netral dan adil.
Dan
beberapa hal yang harus segera bisa diterapkan lebih baik lagi agar kelas saya mencerminkan
pemikiran KHD, diantaranya adalah:
1. Berusaha memberikan semangat dan motivasi kepada siswa
untuk tetap semangat belajar setiap saat, walaupun belajar dari rumah disaat
musim pandemic saat sekarang ini, dan berupaya memberi contoh yang baik dengan
mengajar dengan berbagai cara, baik daring, luring ataupun kunjungan kerumah
siswa sebagai upaya agar pembelajara terus berjalan dengan baik. Hal ini
dilakukan sebagai untuk menerapkan konsep Ingarso Sung tulodo (Didepan memberi
contoh, ing madio mangun karso (ditengan memberikan semangat), Tut wuri handayani
(dibelakang memberikan semangat dan dukungan untuk mengembangkan bakatnya)
2. Memahami pentingnya konsep kodrat alam dan kodrat zaman
dalam proses pembelajaran kepada siswa, karena siswa atau anak-anak itu secara kodrat alam senang
untuk bermain-main, senang bebas dan merdeka namun harus sesuai aturan yang
ada, dan siswa itu secara alami juga memiliki perbedaan suku, ras dan lain.
Maka pembelajaran kedepannya guru harus lebih mengembangkan Tutwuri handayani,
yaitu mendorong bakat atau minat yang ada pada diri siswa, dengan pembelajaran
yang menyenangkan. Dan pembelajaran tentunya harus menyesuaikan dengan
zamannya, karena kodrata alam akan selalu maju menyesuaikan dengan kemajuan
zaman.
3. Mengingatkan kembali tugas sebagai seorang guru yaitu
sebagai pamong atau pasilitator, yaitu momong, mengasuh , membimbing anak
dengan ikhlas untuk menemukan bakat dan minatnya masing-masing.
4. Mengembangkan proses pembelajaran yang menyenangkan,
yaitu belajar sambil bermain
5. Memaksimalnya peran anak sebagai
subjek pembelajaran, yang selama ini masih cenderung sebagai objek
pembelajaran.
6. Menciptakan suasana pembelajaran
yang mendorong siswa bisa berkreasi dalam menemukan dan mengembangkan bakatnya
masing-masing.
Daftar Pustaka:
https://asiswanto.net/?page_id=305
http://tintaedukasi.blogspot.com/2017/05/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar