Minggu, 01 November 2020

KONEKSI ANTAR MATERI , KESIMPULAN DAN REFLEKSI ANTAR MATERI TENTANG PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA

 

KONEKSI ANTAR MATERI , KESIMPULAN DAN REFLEKSI ANTAR MATERI TENTANG PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA

Oleh : Suharianto (201698291361)

Dibimbing: Fasilitator      : 31-YETTY FATRI DEWI

Pendamping : 103-H. Aisyah Hasibuan

 

Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu memberikan kebebasan kepada siswa untuk berkreasi, menemukan cipta, rasa dan karsa serta mampu mengembangkan minat serta bakatnya masing-masing sesuai kodrat alam dan kodrat zaman yang melahirkan siswa yang memiliki dan menumbuhkan budi pekerti yang luhur.

Konsep pendidikan dan pengajaran menurut Ki Hadjar Dewantara, Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka (Dewantara I,2004). Maka, Ki Hadjar menekankan arti penting memperhatikan kodrat alam dalam diri anak semasa pendidikan. Artinya Pendidikan itu sudah setua usia manusia ketika manusia mulai bertahan hidup dan mempertahankan hidup dengan membangun peradabannya. Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti mendidik bangsa ( Dewantara I, 2004).

Menurut Ki Hadjar, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat (Dewantara II , 1994). Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Dalam hal ini, Ki Hadjar membedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin (Dewantara I, 2004).

Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Dan Pendidikan harus memperhatikan budaya local yang telah ada.

Peserta didik : adalah manusia yang mempunyai kodratnya sendiri dan juga kebebasan dalam menentukan hidupnya. Pandangan Ki Hajar tentang siswa yang tidak mengekang kebebasan siswa dalam mengembangkan potensinya dan membiarkan siswa belajar dari pengalaman yang dialaminya sendiri

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang terdapat pada konsep yang di terapkan di Taman Siswa yaitu Tut Wuri HandayaniTut Wuri Handayani berasal dari bahasa Jawa “tut wuri” berarti “mengikuti dari belakang” dan “handayani” berarti “mendorong, memotivasi atau membangkitkan semangat”. Dengan kata tersebut berarti pendidik diharapkan dapat melihat, menemukan, dan memahami bakat atau potensi-potensi apa yang timbul dan terlihat pada anak didik, selanjutnya dapat dikembangkan.

Konsep Tut wuri handayani mirip dan dekat dengan aliran/hukum konvergensi dari William Stern, yang berpendapat bahwa perkembangan anak ditentukan oleh bagaimana interaksi antara pembawaan atau potensi-potensi yang dimiliki anak yang bersangkutan dan lingkungan ataupun pendidikan yang mempengaruhi anak dalam perkembangannya.

Tut wuri handayani merupakan bagian dari konsep kependidikan Ki Hajar Dewantara yang secara keseluruhan berbunyi sebagai berikut:

Ing ngarso sung tulodo,Ing madyo mangun karso,Tut wuri handayani.

Ing ngarso sung tulodo artinya jika pendidik sedang berada  di “depan” maka hendaklan memberikan contoh teladan yang baik terhadap anak didiknya. Ing ngarso= di depan, sungAsung= memberi, tulodo= contoh=teladan.

Ing madyo mangun karso berarti jika pendidik sedang berada di “tengah-tengah” anak didiknya, hendaklah ia dapat mendorong kemauan atau kehendak mereka, membangkitkan hasrat mereka untuk berinisiatif dan bertindak. Ing madyo= di tengah, mangun= membangun, menimbulkan dorongan, karso= kehendak atau kemauan. Konsep Ki Hajar Dewantara tersebut di atas kini ternyata tidak hanya berlaku dalam dunia pendidikan, tetapi lebih luas lagi dijadikan semboyan untuk dipedomani dalam melaksanakan kepemimpinan masyarakat dan negara, yang terkenal dengan sebutan kepemimpinan Pancasila

Sebelum saya mempelajari modul ini, anggapan saya adalah bahwa makna Konsep KIHAJAR DEWANTARA Tentang TUT WURI HANDAYANI, bahwa guru hanya cukup memberikan dorongan kepada siswa untuk aktif belajar dan bisa mendapatkan nilai Koginif yang baik, dan kurang memperhatikan perkembangan siswa dari segi sikap dan psikomotorik dalam pembelajaran,  sehingga selama ini saya hanya baru melakukan degiatan yang berusaha siswa bisa mau aktif dalam belajar dan kemampuan kognitifnya bisa meningkat, tetapi ternyata lebih Luas dari yang yang saya pahami sebelumnya, Bahwa KONSEP TUT WURI HANDAYANI memiliki makna yang sangat luas yaitu mengembangkan serta mendorong bakat atau minat yang ada pada diri siswa, dengan pembelajaran yang menyenangkan. Dan pembelajaran tentunya harus menyesuaikan dengan zamannya, karena kodrata alam akan selalu maju menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Selanjutnya untuk mendisiplinkan peserta didik, menurut saya sebelum mempelajari modul ini adalah dengan memberikan hukuman yang keras tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lain. Namun setelah mempelajari Modul ini, saya semakin menyadari, bahwa hukuman bukanlah cara yang baik untuk membuat anak bisa menjadi pintar dan disiplin bahkan bisa menghambat pertumbuhan jiwa yang merdeka, namun setelah mempelajari modul ini, saya mengetahui bahwa hukuman itu diberikan harus seimbang netral dan adil.

Hal yang berubah dari pemikiran setelah mempelajari modul ini adalah semakin menambah wawasan saya tentang tugas seorang guru yaitu, diantaranya berusaha mengembangkan  bakat atau minat yang ada pada diri siswa dengan cara menerapkan pembelajaran yang menyenangkan. Dan jika memberi sanksi kepada peserta didik atau siswa harus diberikan dengan seimbang netral dan adil.

 Dan beberapa hal yang harus segera bisa diterapkan lebih baik lagi agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD, diantaranya adalah:

1.      Berusaha memberikan semangat dan motivasi kepada siswa untuk tetap semangat belajar setiap saat, walaupun belajar dari rumah disaat musim pandemic saat sekarang ini, dan berupaya memberi contoh yang baik dengan mengajar dengan berbagai cara, baik daring, luring ataupun kunjungan kerumah siswa sebagai upaya agar pembelajara terus berjalan dengan baik. Hal ini dilakukan sebagai untuk menerapkan konsep Ingarso Sung tulodo (Didepan memberi contoh, ing madio mangun karso (ditengan memberikan semangat), Tut wuri handayani (dibelakang memberikan semangat dan dukungan untuk mengembangkan bakatnya)

2.      Memahami pentingnya konsep kodrat alam dan kodrat zaman dalam proses pembelajaran kepada siswa, karena siswa  atau anak-anak itu secara kodrat alam senang untuk bermain-main, senang bebas dan merdeka namun harus sesuai aturan yang ada, dan siswa itu secara alami juga memiliki perbedaan suku, ras dan lain. Maka pembelajaran kedepannya guru harus lebih mengembangkan Tutwuri handayani, yaitu mendorong bakat atau minat yang ada pada diri siswa, dengan pembelajaran yang menyenangkan. Dan pembelajaran tentunya harus menyesuaikan dengan zamannya, karena kodrata alam akan selalu maju menyesuaikan dengan kemajuan zaman.

3.      Mengingatkan kembali tugas sebagai seorang guru yaitu sebagai pamong atau pasilitator, yaitu momong, mengasuh , membimbing anak dengan ikhlas untuk menemukan bakat dan minatnya masing-masing.

4.      Mengembangkan proses pembelajaran yang menyenangkan, yaitu belajar sambil bermain

5.      Memaksimalnya peran anak sebagai subjek pembelajaran, yang selama ini masih cenderung sebagai objek pembelajaran.

6.      Menciptakan suasana pembelajaran yang mendorong siswa bisa berkreasi dalam menemukan dan mengembangkan bakatnya masing-masing.

Daftar Pustaka:
https://asiswanto.net/?page_id=305

http://tintaedukasi.blogspot.com/2017/05/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang.html

 

Rabu, 04 Maret 2020

RPP Merdeka Belajar

RPP Merdeka Belajar atau RPP Satu Lembar merupakan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru (Mas Nadim Makarim) yang diberlakukan kepada semua Guru di Semua tingkatan. Dalam RPP Merdeka Belajar paling tidak harus memuat tiga komponen, yaitu : (1) Tujuan Pembelajaran, (2) Langkah-langkah pembelajaran dan (3) Penilaian. Berikut adalah contoh RPP Merdeka belajar untuk Bidang Studi PAI Tingkat SD. download 

Rabu, 13 Maret 2019

KUMPULAN SOAL-SOAL LCC PAI

Bapak/Ibu Guru Pendamping Siswa Pada Cabang Lomba LCC PAI di Kegiatan PENTAS PAI Kab. Deli Serdang Tahun 2019, yang Insya Allah akan kita laksanakan pada hari kamis, tanggal 21 Maret 2019 di SDIT RIAD MADANI Kecamatan Percut Sei Tuan.
Bahan-bahan soal LCC PAI yang bisa digunakan sebagai bahan bacaan  siswa-siswi yang akan mengikuti lomba dapat di Download  disini.

Atas Kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
#SUKSESPENTASPAIKAB.DELISERDANG# 

Senin, 04 Februari 2019

PROPOSAL PENTASI PAI


PROPOSAL
PEKAN KETERAMPILAN DAN SENI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PENTAS PAI)
KABUPATEN DELI SERDANGTAHUN 2019

A. PENDAHULUAN
            Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

JUKNIS PENTAS PAI SD KAB.DS TAHUN 2019



PETUNJUK TEKNIS PERLOMBAAN PENTAS PAI SD 

KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2019 

I. PERSYARATAN LOMBA :

1. Peserta bukan siswa yang sedang duduk di kelas 6 SD.

2. Membawa fotocopy rapor terakhir

3. Membawa Surat Keterangan Aktif Belajar dari Kepala Sekolah

4. Membawa pas foto 3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar

5. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 20.000/orang dan Rp.50.000/group

6. Peserta lomba adalah peserta terbaik dari hasil seleksi di kecamatan masing-masing, dan setiap kecamatan boleh mengirimkan 2 (dua) perwakilan disetiap cabang lomba, baik putra atau putri (namun jika sampai dengan tanggal 09 Maret 2019 peserta yang mendaftar ke panitia belum mencapai target yaitu 200 orang, maka panitia kegiatan akan menerima pendaftaran peserta bagi kecamatan yang ingin menambahkan peserta kembali menjadi 3 (tiga) perwakilan kecamatan, agar dapat memenuhi target peserta yang diharapkan). 

7. Pendaftaran terakhir tanggal 16 Maret 2019


PANITIA PENTAS PAI SD


SUSUNAN PANITIA
KEGIATAN  PEKAN KETERAMPILAN DAN SENI
PENDIDIKAN  AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR (PENTAS PAI SD)
KABUPATEN DELI SERDANG 2019


Ketua                    : Dra. Zuliani, MA.
Sekretaris             : Dakwati, S.Ag.MA.
Bendahara           : Fida Asmayani, S.Pd.I

Sabtu, 20 Oktober 2018

PENGURUS KKG PAI SD KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2014-2019


KEPUTUSAN KEPALA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN DELI SERDANG TENTANG PENGESAHAN PENGURUS KELOMPOK KERJA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (KKG-PAI) PADA SEKOLAH DASAR (SD) KABUPATEN DELI SERDANG 
PERIODE 2014-2019

ARTIKEL REFLEKSI PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

    PGP-1-Kabupaten Deli Serdang-Suharianto-Aksi Nyata Paket Modul 3 Nama Program “Samusaman” (Satu Murid Satu Tanaman) Oleh : Suharianto Di...